Hujan deras melanda Kota Medan, menyebabkan banjir merendam rumah dinas Gubernur, Kapolda, dan Pangdam I/Bukit Barisan.

Genangan air juga mengganggu mobilitas warga, aktivitas perkantoran, dan kawasan permukiman. Pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat, mengerahkan aparat gabungan untuk evakuasi, pengamanan, dan distribusi bantuan.
Simak dan ikutin terus berita terviral dan terbaru yang bisa menamba wawasan anda yang cuman ada di POS VIRAL.
Banjir Rendam Kompleks Rumah Dinas Pejabat
Hujan dengan intensitas tinggi sejak awal pekan membuat debit sejumlah sungai di Medan dan sekitarnya meningkat tajam hingga akhirnya meluap ke kawasan pemukiman dan perkantoran. Akibatnya, rumah dinas Gubernur Sumut Bobby Nasution yang berada di kawasan pusat kota ikut terendam.
Tak hanya kediaman gubernur, kompleks rumah dinas Kapolda Sumut dan Pangdam I/Bukit Barisan juga terdampak banjir karena berada di jalur genangan di sekitar jalan utama yang tergenang tinggi. Kendaraan dinas dan pribadi yang terparkir di halaman harus dipindahkan ke tempat lebih tinggi untuk menghindari kerusakan.
Genangan di sekitar rumah dinas tersebut juga mengganggu mobilitas tamu dan pegawai yang hendak masuk-keluar kompleks. Sebagian jalan di depan kawasan rumah dinas dilaporkan tak bisa dilalui kendaraan kecil karena ketinggian air mencapai puluhan sentimeter.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo KAWAL TIMNAS lolos PIALA DUNIA, dengan cara LIVE STREAMING GRATIS tanpa berlangganan melalui aplikasi Shotsgoal. Segera download!
Banjir Rendam Kota Medan
Banjir yang merendam rumah dinas para pejabat itu merupakan bagian dari genangan luas yang melanda hampir seluruh penjuru Kota Medan. Hujan deras selama berjam-jam membuat beberapa sungai seperti Babura dan Deli meluap, mengirimkan air ke permukiman padat penduduk maupun kawasan komersial.
Di beberapa kawasan, ketinggian air bahkan dilaporkan mendekati satu meter, membuat warga harus mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi. Aktivitas warga terganggu, anak-anak tidak bisa bersekolah, dan pelaku usaha terpaksa menutup toko sementara waktu. Kondisi ini membuat Kota Medan seolah-olah dikepung air, dengan banyak lingkungan.
Pemerintah daerah menetapkan status siaga dan menginstruksikan seluruh jajaran terkait untuk fokus pada evakuasi dan penyelamatan warga. Sejumlah posko darurat mulai disiapkan di titik-titik yang relatif aman dari genangan untuk menampung warga terdampak.
Baca Juga: Banjir Besar Landa Kota Solok, Ribuan Warga Terpaksa Mengungsi
Tindakan Gubernur Kapolda, dan Pangdam

Terendamnya rumah dinas justru dimanfaatkan Gubernur Sumut Bobby Nasution untuk menunjukkan solidaritas kepada warga yang rumahnya lebih dulu dilanda banjir. Bobby menyampaikan bahwa kondisi yang dialami pejabat adalah gambaran kecil dari penderitaan warga, sehingga penanganan utama tetap difokuskan pada keselamatan masyarakat.
Kapolda Sumut mengerahkan personel tambahan untuk membantu pengamanan, pengaturan lalu lintas, dan proses evakuasi di titik banjir terparah. Personel polisi tampak membantu warga memindahkan barang-barang, mengangkut korban ke tempat aman, hingga menjaga rumah-rumah yang ditinggalkan agar tidak terjadi tindak kriminal.
Pangdam I/Bukit Barisan turut menurunkan prajurit dan peralatan pendukung, seperti perahu karet dan truk taktis, guna mengakses wilayah yang terputus akibat banjir. Prajurit TNI bersama BPBD, polisi, dan relawan bahu-membahu mengevakuasi warga serta mendistribusikan bantuan awal seperti makanan siap saji dan selimut.
Perhatian Publik dan Tindakan Selanjutnya
Fakta bahwa rumah dinas gubernur, Kapolda, dan Pangdam ikut terendam banjir memicu sorotan luas di media sosial. Banyak warganet menilai kejadian ini sebagai alarm serius mengenai kondisi tata kelola drainase dan penataan ruang di Medan. Tidak sedikit pula yang berharap momen ini menjadi titik balik bagi pemerintah.
Sejumlah pakar dan aktivis lingkungan kembali mengingatkan pentingnya normalisasi sungai, penertiban bangunan di bantaran, dan peningkatan kapasitas drainase kota. Menurut mereka, curah hujan tinggi memang berkontribusi, namun faktor tata ruang yang tidak tertata baik memperparah skala banjir.
Pemerintah daerah menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh setelah masa tanggap darurat selesai, termasuk inventarisasi kerusakan, kebutuhan perbaikan infrastruktur, dan skema bantuan bagi warga terdampak. Untuk sementara, fokus utama tetap pada penanganan banjir, evakuasi, serta pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi.
Simak dan ikuti terus jangan sampai ketinggalan informasi terlengkap mengenai berita-berita viral lainnya hanya di seputaran kejadianmedan.info.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari www.viva.co.id
- Gambar Kedua dari medan.kompas.com
