Media sosial baru-baru ini dihebohkan video pedagang sate Malioboro meronta dan berguling-guling di pedestrian saat ditertibkan Satpol PP.
Insiden ini memicu beragam reaksi dan kembali menyoroti polemik penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan ikonik Yogyakarta tersebut. Kejadian ini bukan hanya sekadar penertiban biasa, melainkan cerminan dari konflik kepentingan antara peraturan kota dan perjuangan para PKL untuk mencari nafkah.
Jelajahi rangkuman berita viral, menarik dan terpercaya lainnya yang memperluas wawasan Anda secara eksklusif di POS VIRAL.
Insiden Viral Yang Mengguncang Media Sosial
Sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @wisatamalioboro menjadi pemicu kehebohan ini. Dalam rekaman tersebut, seorang ibu berhijab ungu terlihat histeris, berguling-guling, dan sesekali memukul jalan. Adegan dramatis ini terjadi saat personel Satpol PP Kota Jogja berusaha menertibkan dagangannya, yang kemudian menarik perhatian banyak warganet dan menjadi viral.
Insiden ini terjadi pada Selasa malam, 27 Januari 2026, di Jalan Suryatmajan, Malioboro. Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang-undangan Satpol PP Kota Jogja, Dodi Kurnianto, membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa lokasi tersebut memang terlarang bagi PKL untuk berdagang, dan penertiban dilakukan sebagai bagian dari operasi rutin Satpol PP.
Dodi menambahkan, saat petugas tiba sekitar pukul 21.00 WIB, banyak pedagang sate lainnya yang langsung berlarian menghindar. Pedagang yang viral ini, kata Dodi, mencoba kabur namun diadang petugas. Akibat perlawanan tersebut, dagangan yang dibawanya terjatuh, dan insiden dramatis itu pun terekam oleh warga sekitar yang kemudian menyebarkannya.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Nikmati Keseruan Nonton Bola, Akses Tanpa Batas, dengan cara LIVE STREAMING GRATIS aplikasi Shotsgoal. Segera download!
Alasan Penertiban Dan Aturan Ketat Di Malioboro
Kawasan Malioboro memang telah ditetapkan sebagai zona bebas PKL untuk menggelar dagangan secara sembarangan. Peraturan ini bukan tanpa alasan, melainkan untuk menjaga ketertiban, kebersihan, dan kenyamanan pengunjung serta pemilik toko di sepanjang jalan tersebut. Operasi penertiban oleh Satpol PP pun telah kerap dilakukan untuk menegakkan aturan ini.
Dodi Kurnianto menegaskan bahwa petugas sempat menghentikan pedagang sate yang berusaha kabur untuk keperluan administrasi. Hal ini dilakukan untuk membuat berita acara agar pedagang tersebut tidak mengulangi pelanggaran yang sama di kemudian hari. Namun, karena insiden berguling-guling yang terekam, upaya penertiban lebih lanjut dihentikan untuk menghindari kekacauan.
Penertiban ini juga dilandasi oleh banyaknya keluhan dari pemilik toko dan wisatawan terkait keberadaan pedagang sate di Malioboro. Asap bakaran sate seringkali mengganggu pernapasan dan mencemari udara, sementara sampah yang dihasilkan juga menjadi masalah kebersihan yang serius. Pemerintah kota bahkan harus melakukan kerja bakti rutin untuk membersihkan tumpukan sampah di lokasi tersebut.
Baca Juga: Drama Haji 2026: Chiki Fawzi, Dari Dicopot Mendadak Hingga Dipanggil Kembali!
Reaksi Dan Tanggapan Publik
Video viral ini memicu perdebatan sengit di media sosial, dengan sebagian warganet menyayangkan tindakan Satpol PP yang dianggap kurang humanis. Namun, tak sedikit pula yang mendukung penertiban demi menjaga ketertiban dan keindahan Malioboro. Insiden ini menyoroti dilema yang dihadapi pemerintah daerah dalam menyeimbangkan antara kepentingan penegakan hukum dan kesejahteraan PKL.
Dodi Kurnianto menanggapi dugaan adanya unsur “acting” dalam aksi pedagang tersebut. Ia mengakui bahwa kejadian semacam itu seringkali terekam media dan menimbulkan persepsi yang beragam. Namun, ia menekankan bahwa tujuan utama penertiban adalah menegakkan aturan demi kebaikan bersama, bukan untuk mencari sensasi atau merugikan pedagang.
Situasi ini menunjukkan kompleksitas permasalahan PKL di area wisata padat seperti Malioboro. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk menjaga citra kota dan kenyamanan publik, sementara di sisi lain, banyak individu yang menggantungkan hidup mereka dari berjualan di lokasi tersebut. Solusi yang adil dan berkelanjutan masih menjadi tantangan bagi pemerintah dan masyarakat setempat.
Tantangan Ke Depan Dan Upaya Mencari Solusi
Insiden ini menggarisbawahi urgensi untuk mencari solusi komprehensif bagi PKL di Malioboro. Penertiban semata mungkin tidak cukup efektif jika tidak dibarengi dengan pendekatan yang lebih holistik. Pemerintah daerah perlu mempertimbangkan opsi relokasi yang layak atau pelatihan keterampilan agar para PKL dapat beradaptasi dengan regulasi yang ada.
Pentingnya edukasi dan sosialisasi peraturan kepada para PKL juga tidak bisa diabaikan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang zona larangan dan konsekuensinya, diharapkan dapat mengurangi insiden serupa di masa depan. Dialog terbuka antara pemerintah, perwakilan PKL, dan masyarakat dapat menjadi kunci untuk menemukan titik temu yang saling menguntungkan.
Kejadian dramatis ini hendaknya menjadi momentum untuk meninjau kembali kebijakan penataan PKL di Malioboro. Dengan pendekatan yang lebih humanis, komunikatif, dan terencana, diharapkan Malioboro dapat terus menjadi destinasi wisata yang nyaman dan tertib, tanpa mengorbankan mata pencarian masyarakat kecil.
Jangan ketinggalan informasi terkini seputar POS VIRAL dan beragam berita menarik penambah wawasan.
sumber Informasi Gambar:
-
- Gambar Pertama dari detik.com
- Gambar Kedua dari jogja.tribunnews.com
