Peringatan 21 tahun Hari Damai Aceh di Banda Aceh berakhir ricuh setelah massa hendak memasang bendera bintang bulan di Masjid Raya Baiturrahman.
Aparat TNI yang berjaga di sekitar masjid melarang pemasangan bendera tersebut. Situasi kemudian memanas hingga aparat melepaskan beberapa tembakan peringatan ke udara. Suara tembakan membuat massa yang berada di halaman masjid spontan tiarap.
Awalnya Peringatan Hari Damai, Mendadak Berubah Ricuh
Kericuhan pecah setelah massa dan aparat terlibat ketegangan terkait pemasangan bendera. Sebagian massa kemudian mengejar personel TNI yang berada di sekitar Masjid Raya Baiturrahman.
Massa bergerak hingga ke depan Gedung DPRK Banda Aceh dan kawasan lampu Simpang Kodim. Dalam perjalanan, sejumlah orang melempar batu dan benda lain ke arah aparat.
Personel TNI akhirnya menjauh dari kejaran massa sehingga bentrokan perlahan mereda. Namun, massa masih bertahan di sekitar masjid dan menyampaikan protes terhadap larangan pemasangan bendera tersebut.
Situasi semakin menjadi perhatian setelah massa membakar satu unit sepeda motor milik aparat TNI yang berada di area masjid. Seorang peserta aksi juga mengalami luka di bagian kepala dan kemudian mendapat perawatan di rumah sakit.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
TNI Sayangkan Kericuhan dan Minta Warga Jaga Kondisi
Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Muhammad Nas menyayangkan kericuhan yang terjadi dalam peringatan Hari Damai Aceh.
“Sangat kita sayangkan kejadian ini. TNI mengimbau mari kita hormati simbol negara,” kata Nas kepada wartawan, Sabtu (15/8/2026).
Nas meminta seluruh pihak menahan diri dan menjaga ketertiban. Menurutnya, tindakan yang memicu konflik hanya akan mengganggu suasana damai yang selama ini terjaga di Aceh.
TNI juga terus berkoordinasi dengan aparat keamanan dan pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas serta kondisi wilayah agar tetap aman.
Baca Juga: Viral! Emak-Emak Serang Wanita di Klinik Sampang, Isu Pelakor Bikin Geger
JK Singgung Dugaan Provokasi di Balik Kericuhan
Kericuhan tersebut turut mendapat perhatian Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla atau JK. Sebagai salah satu tokoh penting dalam proses perdamaian Aceh, JK menilai masyarakat sebenarnya datang ke Masjid Raya Baiturrahman untuk memperingati 21 tahun Kesepakatan Helsinki.
Namun, JK menduga ada pihak yang memprovokasi massa hingga situasi berubah menjadi aksi demonstrasi dan keributan.
“Kemudian, entah bagaimana sebabnya tentu ada yang memprovokasi, tibalah kemudian demo dan malam mengganti bendera itu,” ujar JK dalam video yang diterima Kompas.com, Sabtu.
JK menilai sebagian besar masyarakat Aceh tetap menginginkan perdamaian. Ia menduga ketidakpuasan kelompok tertentu ikut memperkeruh keadaan.
JK Soroti Absennya Sejumlah Tokoh Penting Aceh
JK juga menyoroti kondisi para tokoh penting Aceh saat kericuhan terjadi. Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem sedang berada di Kuala Lumpur untuk menjalani pengobatan.
Sementara itu, Wali Nanggroe Malik Mahmud juga berada di Penang untuk menjalani pengobatan. Kondisi tersebut membuat sejumlah tokoh berpengaruh tidak berada di Banda Aceh ketika kericuhan berlangsung.
JK berharap masyarakat tidak melupakan perubahan yang terjadi setelah konflik berakhir. Menurutnya, Aceh kini menikmati perkembangan dalam bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi dibandingkan masa konflik.
Ia juga mengingatkan bahwa Aceh memiliki status otonomi khusus serta memperoleh dukungan dana khusus dari pemerintah pusat sebagai bagian dari upaya rehabilitasi pascakonflik.
LBH Banda Aceh Kritik Penggunaan Aparat Bersenjata
Direktur LBH Banda Aceh Aulianda Wafisa melihat kericuhan tersebut dari sudut pandang berbeda. Ia menilai peringatan Hari Damai Aceh seharusnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk merayakan perdamaian sekaligus menyampaikan aspirasi.
Aulianda menilai pemerintah seharusnya menjamin kebebasan warga untuk berkumpul dan menyampaikan pendapat secara damai. Ia juga mengkritik penggunaan kekuatan aparat bersenjata ketika menghadapi masyarakat sipil.
Menurutnya, pemerintah sebaiknya mengedepankan dialog ketika menghadapi persoalan mengenai simbol atau aspirasi politik masyarakat Aceh.
Kericuhan pada peringatan Hari Damai Aceh kini menjadi perhatian berbagai pihak. TNI meminta masyarakat menjaga ketertiban, sementara JK mengingatkan pentingnya mempertahankan hasil perdamaian. Di sisi lain, LBH Banda Aceh mendorong pemerintah membuka ruang dialog agar perbedaan tidak kembali memicu konflik.