Kasus pengeroyokan terhadap Nenek Saudah oleh penambang emas ilegal membuka luka lama konflik lingkungan di Sumatera Barat masyarakat.
Di tengah krisis ekologis yang menggerus kehidupan masyarakat Sumatera Barat, seorang lansia, Nenek Saudah (68), menjadi korban pengeroyokan oleh pekerja tambang emas ilegal (PETI) karena menolak penambangan di tanah miliknya. Peristiwa ini mengguncang kesadaran publik dan menyoroti kegagalan negara melindungi warganya dari kejahatan lingkungan terorganisir.
Temukan rangkuman informasi menarik dan paling terviral lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di POS VIRAL.
Perlawanan Berujung Kekerasan, Kronologi Memilukan Nenek Saudah
Kamis malam, 1 Januari 2026, menjadi malam yang kelam bagi Nenek Saudah di Jorong Lubuak Aro, Nagari Padang Matinggi Utara, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman. Sore hari itu, ia dengan berani mendatangi pekerja tambang, meminta mereka menghentikan penggalian di lahannya. Permintaannya sempat dipatuhi, menciptakan jeda singkat dalam aktivitas ilegal tersebut.
Namun, ketenangan itu hanyalah fatamorgana. Setelah waktu Magrib, para penambang kembali beroperasi, merangsek masuk ke tanah milik Nenek Saudah. Merasa haknya dilanggar, wanita renta ini memutuskan untuk kembali mendatangi lokasi tambang yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya, seorang diri dalam kegelapan malam.
Dalam perjalanan, ia dilempari batu, lalu dikeroyok, dipukuli, dan dianiaya hingga tak berdaya. Dalam kondisi pingsan, Nenek Saudah bahkan sempat mendengar ucapan bahwa ia telah tiada. Tubuhnya dibuang ke semak-semak di tepi sungai sekitar pukul 22.00 WIB, meninggalkan jejak kekejaman yang tak terperi.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Nikmati Keseruan Nonton Bola, Akses Tanpa Batas, dengan cara LIVE STREAMING GRATIS aplikasi Shotsgoal. Segera download!
Mukjizat di Malam Hari Dan Kondisi Terkini Nenek Saudah
Keajaiban terjadi beberapa jam kemudian, sekitar pukul 01.00 WIB, Nenek Saudah tersadar dari pingsannya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia merangkak dan berjalan pulang ke rumahnya. Namun, setibanya di depan rumah, ia kembali tak sadarkan diri, ditemukan oleh keluarganya yang kemudian segera melarikannya ke fasilitas kesehatan terdekat.
Saat ini, Nenek Saudah masih menjalani perawatan intensif di RSUD Tuanku Imam Bonjol, Lubuk Sikaping. Wajahnya dipenuhi memar, tubuhnya merasakan nyeri hebat, dan ia masih sering mengeluh pusing akibat benturan keras yang dialaminya. Kondisinya mencerminkan betapa parahnya kekerasan yang ia alami.
Keluarga dan masyarakat berharap Nenek Saudah segera pulih dan mendapatkan keadilan atas penderitaannya. Kasus ini menjadi pengingat pahit tentang dampak nyata dari tambang ilegal terhadap individu dan komunitas. Terutama mereka yang berani berdiri tegak mempertahankan hak-haknya.
Baca Juga:
Gerakan Sumbar Pulih, Desakan Untuk Keadilan Dan Perlindungan
Kasus Nenek Saudah memicu gelombang kemarahan dan keprihatinan luas, mendorong Posko Koalisi Sumbar Pulih untuk bertindak. Koalisi yang terdiri dari organisasi masyarakat sipil dan akademisi ini menegaskan bahwa insiden ini adalah bukti kegagalan negara dalam melindungi warga, khususnya kelompok rentan yang melawan kejahatan lingkungan.
Posko Koalisi Sumbar Pulih menyerukan agar Nenek Saudah menjadi prioritas perlindungan. Mereka menekankan bahwa ini bukan sekadar kasus penganiayaan biasa, melainkan kejahatan lingkungan yang terorganisir. Mereka menuntut agar jaringan PETI dibongkar serta aktor-aktor di baliknya dimintai pertanggungjawaban hukum.
Koalisi ini mendesak negara untuk hadir secara nyata, memulihkan hak-hak korban, dan mengusut tuntas jaringan tambang ilegal, termasuk dugaan keterlibatan institusi pemerintah. Mereka juga menuntut Kapolri mengaudit kinerja Polda Sumbar serta Menteri Dalam Negeri mengaudit kinerja pemerintah daerah yang dianggap lemah dalam mengatasi masalah ini.
Panggilan Untuk Presiden, Mengakhiri Perusakan Lingkungan di Sumatera Barat
Posko Sumbar Pulih secara tegas mendesak Presiden Republik Indonesia untuk segera memerintahkan penghentian permanen semua aktivitas PETI di seluruh wilayah Sumatera Barat. Langkah ini krusial untuk mengakhiri perusakan lingkungan yang masif dan tidak berkelanjutan yang telah berlangsung.
Selain penghentian aktivitas, koalisi juga menyerukan dilakukannya audit lingkungan menyeluruh. Audit ini bertujuan untuk memulihkan daerah-daerah yang telah rusak parah akibat penambangan ilegal. Memastikan bahwa lingkungan dapat kembali lestari bagi generasi mendatang.
Koalisi Sumbar Pulih, yang beranggotakan WALHI Sumatera Barat, Center for Agrarian and Environmental Justice (CAEJ), PBHI Sumbar, serta para akademisi, bersatu dalam satu suara. Mereka menegaskan bahwa kekerasan terhadap Nenek Saudah merupakan alarm keras bahwa konflik sumber daya alam di Sumatera Barat telah mencapai titik kritis dan mengancam nyawa warga.
Simak dan ikuti terus jangan sampai ketinggalan informasi terlengkap mengenai berita-berita viral lainnya hanya di seputaran POS VIRAL.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari harianhaluan.id
- Gambar Kedua dari viralfirstnews.fun
