China telah menghebohkan dunia dengan pamer pasukan robot tempur AI yang mengerikan di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat.

Stasiun televisi pemerintah China, CCTV, merilis video yang memperlihatkan ‘robot serigala’ berkaki empat yang siap digunakan di medan pertempuran. Robot-robot ini, yang berbeda dari robot anjing pengintai, dirancang khusus untuk misi tempur dengan persenjataan lengkap, termasuk senapan serbu yang akurat hingga 100 meter. Ini menandai kemajuan signifikan dalam teknologi militer China. Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran POS VIRAL.
Kemunculan Pasukan Robot Serigala
China North Industries Group Corporation telah mengembangkan ‘robot serigala’. Sebuah robot tempur AI berkaki empat yang didesain khusus untuk misi pertempuran. Robot serigala ini berbeda dari robot anjing yang lebih ringan dan lincah yang sebelumnya dibuat untuk keperluan pengintaian. Dalam simulasi latihan yang dipamerkan oleh CCTV, robot-robot ini bergerak dalam kelompok terkoordinasi di lereng bukit. Mendukung pasukan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) yang melakukan latihan tembak tanpa senjata api.
Robot ini mampu menavigasi medan yang sulit, termasuk menaiki tangga dan mengatasi rintangan berat, berkat kemampuan mobilitas tingginya. Robot serigala memiliki berat sekitar 70 kilogram dan dapat beroperasi hingga radius dua kilometer dengan daya tahan tiga jam dalam sekali pengisian daya. Mereka dilengkapi dengan senapan serbu yang mampu menembakkan peluru dengan akurasi hingga 100 meter.
Selain persenjataan lengkap, robot ini menggunakan teknologi LiDAR untuk pemetaan lingkungan yang akurat. Memungkinkan mereka beradaptasi dengan segala medan dan melakukan operasi taktis secara efektif. Robot-robot ini bekerja secara jarak jauh dan dapat beroperasi dalam unit tak berawak yang terintegrasi bersama drone udara, meningkatkan kapabilitas tempur berbasis kolaborasi manusia-drone.
Pengembangan robot serigala ini pertama kali dibocorkan oleh media pemerintah China pada November 2024. Dan kemajuan pesat teknologi ini telah terbukti dengan pelatihan pasukan PLA untuk menggunakannya dalam situasi pertempuran.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Nikmati Keseruan Nonton Bola, Akses Tanpa Batas, dengan cara LIVE STREAMING GRATIS aplikasi Shotsgoal. Segera download!
Evolusi Robot Anjing Militer
Sebelum kemunculan robot serigala, militer China telah memamerkan robot anjing perang yang dilengkapi senapan mesin dalam latihan terbesarnya dengan pasukan Kamboja pada Mei 2024. Robot berkaki empat yang dikendalikan dari jarak jauh ini, dijuluki “robodog”, memiliki senapan otomatis terpasang di punggungnya. Dalam latihan “Golden Dragon” selama 15 hari yang melibatkan lebih dari 2.000 tentara. Robot anjing ini menunjukkan kemampuan berjalan mereka di hadapan wartawan dan petinggi.
Penggunaan robot anjing bersenjata ini menimbulkan kekhawatiran karena kemampuannya untuk beroperasi di lingkungan berbahaya dan potensinya untuk menggantikan peran manusia dalam misi tempur. Seorang tentara China menjelaskan dalam sebuah video bahwa robot ini dapat berfungsi sebagai anggota baru dalam operasi pertempuran perkotaan. Menggantikan anggota manusia untuk mengidentifikasi musuh dan menyerang target.
Selain itu, China juga memiliki robot berkaki empat bertenaga listrik terbesar di dunia, yang dikenal sebagai ‘robot yak’. Yang mampu membawa beban setidaknya 160 kg dengan kecepatan 10 km per jam dan beroperasi di berbagai medan, menjadikannya alat berharga untuk misi logistik dan pengintaian.
Baca Juga:
Laju Inovasi Robotika China

China telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa dalam robotika, tidak hanya di sektor militer tetapi juga di sektor industri. Negara ini telah mengerahkan ratusan ribu robot industri dalam beberapa tahun terakhir, dengan jumlah mesin yang berkembang pesat di pabrik-pabriknya. China kini menempati peringkat di antara negara-negara dengan robot terbanyak di dunia, melampaui raksasa manufaktur tradisional seperti AS, Jerman, dan Jepang.
Hanya Korea Selatan dan Singapura yang memiliki kepadatan robot per pekerja yang lebih tinggi. Pada tahun 2015, pemerintah China meluncurkan inisiatif “Made in China 2025”, sebuah peta jalan strategis untuk meningkatkan kemampuan manufaktur negara di sektor-sektor utama, dengan tujuan memproduksi 100.000 robot industri per tahun.
Antara tahun 2022 dan 2023, China mengirimkan 267.000 pekerja robot, menurut laporan dari Federasi Robotika Internasional. Investasi besar-besaran ini didorong oleh meningkatnya biaya tenaga kerja dan kebutuhan untuk mempertahankan daya saing dan efisiensi industri di pasar internasional.
Persaingan Global dan Reaksi
Perkembangan robot tempur China ini merupakan bagian dari perlombaan senjata global yang lebih besar di bidang kecerdasan buatan (AI) dan sistem senjata otonom. Para analis pertahanan seperti Francis Tusa memperkirakan bahwa China bisa menjadi negara pertama yang memiliki sistem senjata otonom sepenuhnya yang digunakan secara aktif. Dengan kecepatan pengembangan yang diperkirakan empat hingga lima kali lebih cepat dari Amerika Serikat.
Prancis juga berinvestasi besar-besaran dalam teknologi tempur robotik, berharap dapat membentuk pasukan robot pada tahun 2040. Meskipun kapasitas robotikanya secara keseluruhan masih sangat kecil dibandingkan China. Amerika Serikat tidak mau kalah, juga berinvestasi besar-besaran dalam robot militer. Dengan seorang pejabat Pentagon menyatakan niat untuk berinvestasi dalam “robot pembunuh otonom”. Tahun lalu, Angkatan Darat AS dilaporkan sedang menguji robot anjing yang dilengkapi senapan.
Ada kekhawatiran global mengenai keamanan AI dan potensi risiko teknologi canggih ini. Insiden seperti robot humanoid Unitree H1 di China yang mendadak tak terkendali saat uji coba pada Mei 2025 memicu debat tentang masa depan AI yang tidak terkendali. Meskipun beberapa pihak menjelaskan insiden tersebut sebagai masalah teknis ketidakseimbangan algoritma. Kekhawatiran tentang potensi bahaya AI, seperti skenario “Terminator”, tetap meluas di kalangan netizen.
Potensi Dampak dan Tantangan Etika
Integrasi AI ke dalam strategi militer secara fundamental mengubah perang, dengan beberapa ahli mengkhawatirkan skenario “perang cerdas” di mana kawanan drone yang dikendalikan AI canggih dapat menantang militer konvensional. Hal ini menjadi sangat relevan di zona konflik potensial seperti Taiwan atau Laut China Selatan.
Di mana senjata AI baru ini dapat digunakan tanpa jelas seberapa cepat eskalasi dapat terjadi. Contoh praktis dari perkembangan ini terlihat pada tahun 2020 ketika drone Turki melakukan serangan terdokumentasi pertama tanpa intervensi manusia selama konflik di Libya, yang mempercepat minat global dalam teknologi serupa.
Para ahli memperingatkan bahwa meskipun pertumbuhannya sangat pesat, masih ada beberapa hambatan, terutama terkait keamanan, etika, dan penerimaan publik. Terobosan dalam teori AI dasar sangat penting untuk adopsi massal, dan diperlukan penguatan dukungan untuk penelitian dasar di bidang ilmu fisika, ilmu material. Dan matematika untuk memastikan robot humanoid dapat mencapai potensi penuh mereka.
Kesimpulan
China pamer pasukan robot tempur termasuk ‘robot serigala’ dan robot anjing bersenjata, yang menggarisbawahi komitmennya terhadap dominasi teknologi militer. Meskipun inovasi ini menunjukkan kemajuan pesat China dalam robotika, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran etika dan memicu perlombaan senjata global. Menuntut perhatian cermat dari komunitas internasional mengenai regulasi dan kontrol teknologi transformatif ini. Simak dan ikuti terus jangan sampai ketinggalan informasi terlengkap hanya di POS VIRAL.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari inet.detik.com
- Gambar Kedua dari international.sindonews.com
