Sebuah video viral di media sosial tentang tubuh warga Palestina berterbangan akibat dibom Israel pada saat perayaan Idul Fitri 1446 H.
Aktivis anti-imperialis, Greg J Stoker, turut mengecam serangan tersebut dan membagikan pengalamannya sebagai veteran antiperang yang menyaksikan dehumanisasi dalam operasi militer. Kejadian ini menyoroti dampak konflik Israel-Palestina yang berkelanjutan, dengan jatuhnya korban sipil dan krisis kemanusiaan yang parah. Masyarakat internasional terus menyerukan solusi damai untuk mengakhiri kekerasan dan melindungi warga sipil. Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran POS VIRAL.
Latar Belakang Konflik
Sejarah konflik Palestina-Israel bermula pada awal abad ke-20, ketika Kesultanan Ottoman dikalahkan oleh Inggris dalam Perang Dunia I. Wilayah Palestina kemudian diambil alih oleh Inggris. Pada tahun 1917, Deklarasi Balfour mendukung pendirian rumah nasional Yahudi di Palestina, yang mendorong imigrasi bangsa Yahudi dari berbagai belahan dunia ke tanah Palestina. Meningkatnya imigrasi Yahudi menimbulkan ketegangan antara komunitas Yahudi dan Arab Palestina.
Setelah Perang Dunia II, PBB mengambil alih mandat atas Palestina dan membagi wilayah tersebut menjadi dua negara melalui Resolusi PBB Nomor 181 pada tahun 1947 satu untuk orang Arab Palestina dan satu untuk bangsa Yahudi. Namun, bangsa Arab Palestina menolak pembagian tersebut, yang memicu Perang Arab-Israel pertama pada tahun 1948.
Israel memenangkan perang ini, yang mengakibatkan pembentukan negara Israel dan pengungsian rakyat Palestina. Israel menguasai wilayah tambahan seperti Tepi Barat, Jalur Gaza, dan bagian dari Yerusalem Timur. Yang memperpanjang konflik terkait pemukiman Israel di wilayah-wilayah tersebut.
POSVIRAL hadir di saluran wahtsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo KAWAL TIMNAS lolos PIALA DUNIA, dengan cara LIVE STREAMING GRATIS tanpa berlangganan melalui aplikasi Shotsgoal. Segera download!

Dampak Serangan dan Kondisi di Gaza
Serangan Israel di Gaza telah menyebabkan pengungsian massal warga Palestina. Ratusan ribu orang mencari perlindungan di tengah operasi militer yang intens, terutama di kota Rafah yang menjadi salah satu lokasi pengungsian terbesar selama konflik. Keadaan ini menciptakan krisis kemanusiaan yang parah dengan kebutuhan mendesak akan tempat tinggal, makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan peningkatan jumlah korban jiwa akibat serangan Israel. Dalam 24 jam terakhir, setidaknya 97 orang dilaporkan tewas, termasuk 20 orang dalam serangan udara di Shejaia. Selain itu, serangan udara Israel juga menewaskan 27 warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak. Di dalam gedung sekolah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan. Situasi ini menunjukkan bahwa warga sipil, termasuk mereka yang mencari aman di tempat-tempat pengungsian, menjadi korban dari konflik yang sedang berlangsung.
Baca Juga:
Kondisi Warga Palestina dan Serangan yang Meningkat
Di tengah pengeboman yang intensif, warga Palestina menggunakan media sosial untuk berbagi pesan terakhir dan surat perpisahan. Mencerminkan ketakutan mendalam bahwa mereka mungkin tidak selamat. Keputusasaan meluas di antara penduduk, sebagaimana diungkapkan oleh jurnalis Abdallah Alattar dari Rafah yang menyatakan, “Sepertinya kita tidak akan berhasil kali ini.” Ungkapan ini menyoroti tingkat keputusasaan dan ketidakpastian yang dihadapi warga Palestina setiap hari.
Serangan Israel telah meningkat secara signifikan, dengan 3 April 2025 menjadi hari paling mematikan sejak dimulainya kembali konflik pada 18 Maret, di mana 112 warga Palestina kehilangan nyawa. Selain itu, blokade Israel terhadap makanan dan kebutuhan pokok telah menyebabkan kelaparan yang meluas di kalangan warga Palestina. Memperburuk kondisi kehidupan mereka dan meningkatkan penderitaan mereka di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Serangan Terhadap Tempat Perlindungan Korban
Serangan Israel telah menargetkan tempat-tempat perlindungan di Gaza, meningkatkan kekhawatiran tentang keselamatan warga sipil. Namun Serangan udara terhadap tiga sekolah di Tuffah, Kota Gaza, yang digunakan sebagai tempat penampungan. Mengakibatkan sedikitnya 33 warga Palestina meninggal dan lebih dari 100 lainnya luka-luka. Insiden ini menyoroti risiko besar yang dihadapi oleh warga sipil yang mencari perlindungan di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Serangan terhadap Sekolah Dar al-Arqam menyebabkan kematian 29 orang, termasuk 18 anak-anak. Sumber medis melaporkan bahwa sedikitnya 112 orang meninggal dunia dalam serangan Israel di Jalur Gaza sejak Kamis dini hari, dan banyak dari korban adalah anak-anak. Jumlah korban yang tinggi dan tingginya proporsi anak-anak yang menjadi korban menyoroti dampak buruk dari konflik terhadap populasi sipil, terutama anak-anak.
Kesimpulan
Situasi di Gaza sangat mengerikan, dengan peningkatan kekerasan yang ditargetkan pada warga sipil dan infrastruktur penting. Pengungsian terus berlanjut, kekurangan makanan dan air semakin parah, dan dampak psikologis dari kekerasan tersebut merusak warga Palestina, terutama anak-anak. Komunitas internasional harus mendesak tindakan segera untuk menghentikan serangan, memberikan bantuan kemanusiaan, dan memastikan akuntabilitas atas pelanggaran hukum internasional.
Hanya dengan upaya kolektif kita dapat meringankan penderitaan warga Palestina dan bekerja menuju solusi yang adil dan berkelanjutan untuk konflik yang telah berlangsung lama ini. Simak dan ikuti terus jangan sampai ketinggalan informasi terlengkap mengenai Kejadian Tubuh Warga Palestina Berterbangan Dibom Israel.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari okezone.com
- Gambar Kedua dari okezone.com