Perang komentar antara netizen Korea dan Indonesia meledak setelah konser Day6 di Kuala Lumpur, memicu adu sindir, cuitan rasis yang viral di media sosial.
Konflik ini awalnya soal aturan konser, namun berkembang menjadi sentimen antarnegara yang menyita perhatian publik Asia Tenggara. Netizen dari kedua negara saling balas komentar pedas, sementara pakar literasi media mengingatkan pentingnya etika online dan kesadaran budaya. Dibawah ini POS VIRAL akan membahas informasi terbaru dan terviral tentang berita-berita lainnnya
Netizen Korea dan Indonesia Baku Hantam di Media Sosial
Perang komentar antara netizen Korea Selatan dan Indonesia meledak tanpa aba-aba, menyebar cepat ke berbagai negara Asia Tenggara. Awalnya hanya terkait aturan konser, namun debat online itu berubah menjadi adu sindir berkepanjangan. Sejumlah tagar yang mengangkat perseteruan ini bahkan sempat masuk jajaran trending di media sosial.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana interaksi daring dapat dengan mudah berubah menjadi konflik lintas negara. Ketegangan antara penggemar K-pop dan netizen lokal memicu diskusi yang meluas, melibatkan berbagai kalangan di Asia Tenggara. Fenomena ini pun menjadi sorotan media karena dampaknya terhadap hubungan digital antar-komunitas penggemar.
Selain itu, insiden ini mengingatkan publik akan pentingnya etika online dan literasi media sosial. Setiap unggahan, terutama yang bersifat provokatif, berpotensi memicu ketegangan yang meluas. Pihak berwenang mengimbau netizen agar lebih berhati-hati saat berkomentar di ruang terbuka supaya tidak menimbulkan konflik internasional.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Nikmati Keseruan Nonton Bola, Akses Tanpa Batas, dengan cara LIVE STREAMING GRATIS aplikasi Shotsgoal. Segera download!
Konser Day6 di Kuala Lumpur Jadi Pemicunya
Pangkal masalah bermula dari konser band Korea Selatan Day6 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada akhir Januari 2026. Seorang fansite Korea membawa kamera profesional berukuran besar dengan lensa tele di tengah euforia penampilan band tersebut. Padahal, promotor telah menetapkan perangkat tersebut sebagai barang terlarang di area konser.
Aksi fansite itu tertangkap kamera penonton lain dan foto serta videonya kemudian viral di media sosial. Beberapa akun menyebut fansite tersebut bereaksi defensif dan bahkan mengancam akan menempuh jalur hukum, memicu ketegangan antara penggemar Malaysia dan fansite Korea.
Perdebatan itu awalnya bersifat lokal, namun cepat meluas ketika pengguna dari negara lain ikut menanggapi. Isu kepatuhan terhadap aturan konser berubah menjadi sorotan publik terhadap perilaku penggemar dan profesionalisme fansite.
Baca Juga: Tragedi di Bekasi, Pasangan Muda Buang Bayi Polisi Tangkap Pelaku
Debat Online Memanas Jadi Konflik Antarnegara
Yang semula hanya adu argumen antar-fans perlahan berubah menjadi sentimen antarnegara. Komentar bernada meremehkan dan rasis mulai bermunculan, terutama dari akun yang diduga netizen Korea Selatan. Sejumlah komentar yang dianggap menyinggung Asia Tenggara membuat netizen Indonesia ikut terseret dalam perdebatan.
Ribuan pengguna lain menyaksikan percakapan itu di ruang terbuka, memperparah situasi. Algoritma X (sebelumnya Twitter) mempercepat penyebaran cuitan tersebut, membuatnya cepat viral dan masuk daftar trending di kawasan regional. Akibatnya, perdebatan kecil antar-fans berubah menjadi isu yang memicu perhatian publik lintas negara.
Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana media sosial dapat menjadi arena konflik budaya jika pengguna tidak berhati-hati. Stereotip, komentar provokatif, dan kesalahpahaman dapat dengan cepat berkembang menjadi perdebatan internasional.
Cuitan Rasis Picu Amarah Netizen
Akun yang diduga milik netizen Korea Selatan memposting cuitan baru setelah polemik konser mereda. Unggahan berbahasa Inggris itu bernada merendahkan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Malaysia, menyinggung kondisi ekonomi, dan menyiratkan stereotip negatif.
Cuitan tersebut dengan cepat menyebar dan menuai kecaman luas. Netizen Indonesia yang tersinggung menyerang balik dengan komentar pedas, menuding pernyataan itu sebagai bentuk rasisme yang tak bisa ditoleransi. Diskusi online pun kembali memanas dan viral, menimbulkan sorotan publik internasional terhadap fenomena perilaku daring.
Para pakar literasi media menyarankan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam berinteraksi di platform terbuka. Moderasi diri, kesadaran budaya, dan empati menjadi kunci agar interaksi daring tetap sehat dan tidak memicu konflik lintas negara di masa depan.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar pertama dari aceh.tribunnews.com
- Gambar Utama dari POS VIRAL
