Rachmawati soekarnoputri bongkar kegagalan pemimpin partai PDIP yang menggambarkan kritik keras kepada kakaknya sendiri, Megawati Soekarnoputri, yang memimpin PDIP.

Rachmawati menilai Megawati gagal memimpin partai dengan tegas dan konsisten. Ia menganggap Megawati terlalu sering kompromi dalam politik, lambat mengambil keputusan penting, dan kadang mengkritik pemerintah padahal PDIP masih berada di dalam kabinet.
Dalam POS VIRAL ini, kita akan membahas bagaimana Rachmawati, adik Megawati, tampil mengkritik bagaimana kepemimpinan Megawati di PDIP dianggap gagal oleh sebagian pihak karena terlalu pragmatis dan tidak idealis. Kita bahas dengan bahasa yang santai aja ya, biar gampang diikuti.
Awal Drama Rachmawati dan Megawati
Sejarah politik keluarga ini memang menarik. Setelah era Orde Baru, Megawati masuk ke PDI padahal ada kesepakatan supaya anak-anak Soekarno nggak ikut politik sebagai bentuk kekecewaan terhadap Soeharto.
Rachmawati sempat bertanya langsung, tapi Mega cuma diam. Rachmawati mencium ada unsur politis yang bikin sosok Megawati justru dipakai sebagai ‘alat’ melemahkan Islam kala itu.
Nggak cuma itu, saat Megawati mendukung Gus Dur di momen genting, Rach langsung melancarkan kritik super tajam. Dia menilai Mega melakukan ‘insubordinasi’ terhadap presiden yang saat itu Gus Dur.
Rach bilang kalau mau bicara makar, justru dialah yang sebenarnya melakukan makar.
Lalu datang kritik soal BLBI saat Megawati jadi presiden. Rachmawati geram karena Mega dianggap terlalu leluasa kasih “release and discharge” kepada obligor BLBI. Bagi Rach, itu kebijakan yang paling merugikan negara. Akhirnya, dia keluar dari PDIP dan bikin Partai Pelopor. Partai itu cuma dapat tiga kursi di DPR pada 2004, sebelum akhirnya lenyap.
Bagi Rach, semua itu bukan soal perseteruan keluarga saja, tapi soal prinsip dan ideologi yang berbeda. Dia terlalu sering melihat Mega kompromi dan penuh pragmatisme, yang menurutnya jauh dari nilai-nilai revolusioner Bung Karno.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Nikmati Keseruan Nonton Bola, Akses Tanpa Batas, dengan cara LIVE STREAMING GRATIS aplikasi Shotsgoal. Segera download!
Rachmawati Bongkar Kegagalan Megawati
Ketika Rachmawati mengungkap kegagalan terhadap kepemimpinan Megawati, yang terlihat jelas adalah bahwa dia menilai Mega terlalu lambat dan ragu mengambil kebijakan penting. Contohnya saat muncul wacana hak angket terhadap Pemilu 2024.
Sebagai Ketua Umum PDIP, masyarakat nunggu-nunggu pernyataan Megawati. Sayangnya, Mega baru merestui wacana itu via ketua tim, bukan dia sendiri yang menyampaikan secara langsung.
Pakar hukum Refly Harun bilang bahwa pernyataan semacam itu memang dinanti, tapi keputusan Megawati selalu datang terlambat
Selain kritikan dari keluarga sendiri, anomali lain datang dari pengamat. Ujang Komarudin dari Indonesia Political Review merasa aneh saat PDIP mengkritik penyelenggaraan Pemilu 2024 padahal partai itu masih memegang posisi di kabinet pemerintahan. Bagi Ujang, itu menimbulkan kesan campur aduk: seolah oposisi, tapi tetap jadi bagian pemerintahan.
Saat Rakernas PDIP juga terjadi momen ‘drama politik’. Megawati mengeluarkan kritik cukup keras terhadap pemerintah, termasuk soal kabinet besar, RUU yang dianggap dipaksakan, hingga KPK dan MK.
Pernyataan seperti “MK dijadiin mainan” dan “KPK kurang kerjaan” muncul dari mulut Mega dan bikin gaduh internal partai dan publik. Puan Maharani, putrinya sendiri, bahkan angkat bicara untuk membela proses pengambilan keputusan di DPR.
Baca Juga: Dari Relawan Jadi Tersangka, Immanuel Ebenezer Terseret OTT KPK!
Drama Politik Keluarga Soekarno

Cerita ini sebenarnya bukan cuma soal saudara berbeda pendapat. Ini juga soal bagaimana politik bisa membelah keluarga, serta bagaimana prinsip dan ideologi bisa jadi senjata paling ampuh dalam beradu argumen.
Bagi Rachmawati, politik bukan soal keluarga atau mesin kekuasaan, tapi tentang kejujuran dan integritas.
Kisah antara Rach dan Meg bisa jadi pelajaran penting bahwa ketika seorang pemimpin terlalu kompromis dan kehilangan prinsip, maka legitimasi dan wibawanya bisa terus dipertanyakan. Partai politik pun bisa jadi sorotan, bukan karena kekuatan militansi, tapi karena kelemahan moral dan etika.
Kritik Terhadap Kepemimpinan Megawati
Menurut pengamat dan sebagian kader PDIP, gaya kepemimpinan Megawati dianggap kurang berpikir jangka panjang. Ada yang bilang bahwa Megawati kurang mampu memberikan kesempatan pada kader muda di PDIP untuk maju dan muncul jadi figur publik.
Ini dianggap jadi salah satu pemicu kenapa kader-kader reformis merasa tidak punya tempat dalam struktur partai yang lebih konservatif.
Di balik itu, Megawati juga dikritik karena terlalu pragmatis atau bahkan ‘terlalu protektif’. Dalam artian, keputusan-keputusannya di internal partai lebih menjaga eksistensi PDIP daripada membuka ruang bagi regenerasi atau kreativitas baru.
Manfaatkan juga waktu anda untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi tentang semua informasi lainnya hanya di POS VIRAL.
- Gambar Pertama dari news.detik.com
- Gambar Utama dari www.merdeka.com
