Jumat, September 25POS VIRAL
Shadow

Viral Mi Ayam Micin Brutal, Dokter Ungkap Dampaknya yang Bikin Ginjal Waspada

Video mi ayam dengan bumbu dan saus berlebih viral di media sosial, memicu rasa penasaran tentang kandungan garam dan gula serta dampaknya bagi kesehatan tubuh. 
Viral Mi Ayam Micin Brutal, Dokter Ungkap Dampaknya yang Bikin Ginjal Waspada
Spesialis penyakit dalam dan konsultan ginjal dan hipertensi, Prof Dr dr Endang Susalit, SpPD-KGH, FINASIM, mengingatkan masyarakat agar tidak melihat dampak makanan hanya dari satu kali konsumsi. Menurutnya, tubuh masih mampu menghadapi makanan tinggi garam dan gula jika seseorang hanya menyantapnya sesekali. Simak ulasan lengkapnya dari POS VIRAL.
NONTON GRATIS LIVE STREAMING STADIONLIVENONTON GRATIS LIVE STREAMING SHOTSGOAL

Mi Ayam dengan Bumbu Berlimpah Bikin Netizen Penasaran

Mi ayam sudah lama menjadi salah satu makanan favorit banyak orang. Tambahan saus, kecap, penyedap, dan bumbu lain membuat rasanya semakin kuat. Namun, video yang viral kali ini menunjukkan jumlah tambahan bumbu jauh lebih banyak dari porsi biasa.

Situasi tersebut kemudian mengundang perhatian karena bumbu dan saus juga dapat menambah asupan natrium. Garam menjadi salah satu sumber natrium yang perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang sering menyantap makanan dengan rasa sangat asin.

Prof Endang menilai masyarakat tidak perlu langsung khawatir hanya karena sesekali menyantap makanan seperti itu. Ia justru meminta masyarakat melihat seberapa sering kebiasaan tersebut muncul dalam menu sehari-hari.

POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL

🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal.

Download Aplikasi Shotsgoal - Live Streaming Piala Dunia 2026
📲 DOWNLOAD SEKARANG

Dokter Ingatkan Risiko Jika Makan Hampir Setiap Hari

Prof Endang menjelaskan bahwa tubuh masih dapat menghadapi konsumsi makanan tinggi garam dan gula jika seseorang hanya melakukannya sesekali. Namun, kebiasaan makan seperti itu bisa menimbulkan masalah ketika seseorang terus mengulangnya dalam jangka panjang.

“Kalau hanya sekali sebulan sih mungkin nggak terlalu pengaruh ya. Tapi kalau hampir tiap hari makan seperti itu, ya lama-lama akibat gulanya tadi diabetes, akibat garam itu bisa tensinya naik,” kata Prof Endang saat ditemui di sela The 6th Siloam Urology-Nephrology Summit 2026 di Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Prof Endang, tekanan darah tinggi dan diabetes dapat memengaruhi kesehatan ginjal. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan pola makan sebelum kebiasaan tersebut berkembang menjadi masalah kesehatan.

Baca Juga: Viral! Eksekusi Rumah Lansia 82 Tahun di Jakbar Tuai Sorotan, Koperasi Akhirnya Buka Suara

Garam dan Gula Jangan Sampai Berlebihan

Dalam menu sehari-hari, masyarakat tidak hanya perlu menghitung jumlah mi yang mereka makan. Saus, kecap, penyedap, dan berbagai tambahan lain juga bisa menambah asupan garam serta gula.

“Jadi ada zat-zat tertentu dalam makanan tadi, yang biasanya kita identifikasi garam sama gula biasanya. Itu yang jelas mengganggu tubuh itu pun untuk jangka panjang,” jelas Prof Endang.

Masalahnya, tubuh tidak selalu langsung menunjukkan tanda ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi garam dan gula. Seseorang bahkan bisa merasa sehat meski terus menjalani pola makan yang kurang seimbang.

Karena itu, masyarakat sebaiknya mulai memperhatikan pilihan makanan dan frekuensi konsumsinya. Kebiasaan sederhana seperti mengurangi tambahan saus atau bumbu bisa membantu mengendalikan jumlah garam dan gula yang masuk ke tubuh.

Tekanan Darah Tinggi Bisa Ikut Membebani Ginjal

Ginjal memiliki tugas penting dalam menyaring darah serta menjaga keseimbangan cairan dan berbagai zat di dalam tubuh. Tekanan darah tinggi yang berlangsung lama dapat mengganggu fungsi organ tersebut.

Prof Endang menjelaskan bahwa konsumsi garam berlebihan dapat meningkatkan risiko hipertensi. Sementara itu, konsumsi gula dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan risiko diabetes. Kedua kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal kronik.

Jadi, persoalannya bukan terletak pada satu mangkuk mi ayam yang seseorang makan sesekali. Pola makan secara keseluruhan justru memiliki peran yang lebih besar. Jika makanan tinggi garam dan gula muncul hampir setiap hari, seseorang perlu mulai mengevaluasi kebiasaan tersebut.

Mi Ayam Tetap Boleh, Asalkan Tidak Berlebihan

Viralnya mi ayam dengan bumbu “brutal” tidak berarti masyarakat harus langsung menghindari makanan tersebut. Prof Endang menekankan pentingnya mengatur frekuensi makan dan tidak menjadikan makanan tinggi garam serta gula sebagai menu harian.

“Kalau sekali-sekali mungkin nggak masalah, sekali-sekali dalam dua bulan, tiga bulan. Tapi kalau rutin itu terus sehingga masukkan garam dan gula tadi bertumpuk, lama-lama organ tubuh yang menerima itu nggak siap, nggak tahan. timbul penyakit baru,” sambung Prof Endang.

Dengan begitu, satu porsi mi ayam sesekali bukan menjadi persoalan utama. Yang lebih penting adalah kebiasaan makan dalam jangka panjang. Menikmati mi ayam tetap bisa dilakukan, tetapi sebaiknya batasi tambahan bumbu, saus, dan makanan lain yang tinggi garam maupun gula agar pola makan sehari-hari tetap seimbang.

Tele Grup
Channel WA
Grup FB
Search