Aksi warga di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mengubur patung Bunda Maria sontak viral di media sosial dan memicu beragam reaksi publik.
Dalam rekaman tersebut, tampak sejumlah warga dengan ekspresi serius menanam patung suci itu ke dalam tanah, lengkap dengan doa-doa yang mengiringi. Tak sedikit warganet yang menganggap aksi ini sebagai bentuk penodaan agama, sementara lainnya bertanya-tanya apakah tindakan itu dilatarbelakangi oleh konflik internal, tradisi lokal, atau alasan spiritual tertentu yang belum diketahui publik secara luas.
Di bawah ini POS VIRAL akan menjelaskan lebih lengkap lagi tentang berita Viral! Patung Bunda Maria Dikubur, Ini Respons Gereja Katolik.
Patung Bunda Maria Dikubur di NTT
Jagat maya digemparkan oleh sebuah video mengejutkan yang menunjukkan sekelompok warga di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, sedang mengubur patung Bunda Maria. Aksi itu dilakukan secara terbuka di sebuah lahan terbuka, disaksikan sejumlah warga lainnya, dan direkam hingga tersebar luas di berbagai platform media sosial.
Publik pun terpecah: ada yang mengecam, ada pula yang mencoba memahami konteks budaya dan latar belakang aksi tersebut.Video berdurasi beberapa menit itu memperlihatkan prosesi penguburan yang tampak khidmat namun janggal. Patung yang merupakan simbol suci dalam iman Katolik itu ditanam ke dalam tanah layaknya jenazah, lengkap dengan doa-doa dan ekspresi serius dari para warga yang terlibat. Tak butuh waktu lama, video tersebut viral dan mengundang perhatian nasional, bahkan lintas agama.
POSVIRAL hadir di saluran wahtsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo KAWAL TIMNAS lolos PIALA DUNIA, dengan cara LIVE STREAMING GRATIS tanpa berlangganan melalui aplikasi Shotsgoal. Segera download!

Simbol Protes atau Tradisi Lokal?
Banyak umat Katolik yang menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap simbol iman yang sangat dihormati. Namun di sisi lain, ada juga yang menyebutnya sebagai bentuk protes diam-diam terhadap dinamika gereja lokal yang dianggap tidak lagi mewakili suara umat.
Beberapa tokoh budaya lokal menyebutkan bahwa tindakan tersebut mungkin berkaitan dengan tradisi adat atau kepercayaan lokal yang bercampur dengan ajaran Katolik. Manggarai Barat memang dikenal memiliki kekayaan budaya yang unik, dan dalam sejarahnya, sinkretisme antara adat dan agama kerap kali terjadi.
Baca Juga:
Keuskupan Labuan Bajo Buka Suara
Menjawab keresahan umat dan publik luas, Keuskupan Labuan Bajo akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi. Dalam klarifikasi tersebut, pihak gereja menyatakan bahwa penguburan patung Bunda Maria tersebut bukanlah bentuk penghinaan terhadap simbol iman Katolik, melainkan lahir dari dinamika pastoral dan relasi sosial masyarakat setempat.
Keuskupan menegaskan bahwa mereka tengah melakukan investigasi pastoral untuk memahami konteks dan alasan di balik aksi tersebut. Uskup dan para imam setempat juga disebut telah berdialog langsung dengan komunitas yang terlibat, guna mencegah kesalahpahaman yang lebih luas.
Bukan Penghinaan, Tapi Tindakan Emosional
Keuskupan menyebut bahwa aksi penguburan itu bukan tindakan yang dirancang untuk menodai iman atau menolak ajaran Katolik. Justru, tindakan itu lahir dari ekspresi emosional warga yang merasa tidak lagi terhubung secara spiritual dengan simbol yang mereka tanam.
Patung tersebut pernah digunakan dalam konteks doa bersama yang kini dirasa tidak lagi relevan oleh komunitas, atau terjadi gesekan internal. Gereja menegaskan pentingnya membaca tindakan itu dalam kerangka pastoral, bukan sekadar hukum agama.
Warga Minta Didengar, Bukan Diadili
Salah satu tokoh masyarakat yang terlibat dalam aksi tersebut mengatakan bahwa mereka tidak berniat menghina Bunda Maria ataupun gereja. Penguburan patung dilakukan sebagai bentuk “penutupan bab” dari sebuah fase keimanan yang mereka anggap sudah tidak murni lagi, dan mereka ingin memulai sesuatu yang baru.
“Ini bukan kebencian, tapi keinginan untuk kembali kepada iman yang lebih jujur,” ujarnya. Bahwa terkadang tindakan kontroversial lahir dari keresahan yang dalam, dan yang dibutuhkan bukanlah vonis, melainkan ruang untuk mendengar dan berdialog.
Dari Kecaman hingga Empati
Di luar NTT, berbagai tokoh agama dan organisasi lintas iman menyampaikan pandangannya. Sebagian besar mengimbau agar masyarakat tidak langsung menghakimi tindakan tersebut, melainkan mendorong pendekatan yang lebih empatik dan mendalam terhadap penyebabnya. Banyak pula yang memuji respons cepat dan tenang dari Keuskupan Labuan Bajo yang memilih untuk berdialog, bukan menghukum.
Namun, tidak sedikit pula yang mendesak agar tindakan semacam ini tidak terulang dan simbol agama tetap dijaga kesuciannya. Polemik ini pun membuka ruang diskusi luas tentang bagaimana masyarakat kita menghadapi friksi antara keyakinan pribadi, institusi keagamaan.
Kesimpulan
Masyarakat yang beragam seperti Indonesia, pendekatan dialog dan empati jauh lebih efektif daripada reaksi emosional atau hukuman sepihak. Gereja telah menunjukkan keteladanan dengan mendekati akar persoalan secara pastoral, bukan represif.
Bagi masyarakat luas, ini adalah ajakan untuk memahami bahwa simbol agama bukan sekadar benda, tetapi juga sarat makna dan emosi. Cara yang tidak biasa, alih-alih langsung mengecam, saatnya kita bertanya: apa yang ingin disampaikan, bagaimana kita bisa memahami? Informasi berita viral terkini, hanya ada di POS VIRAL yang selalu saja menayangkan berita terbaru setiap harinya.
- Informasi Gambar Yang di Dapat
- Gambar Pertama Dari Manggarai News
- Gambar Kedua Dari Klik Labuhan Bajo