Viral! Bang Baneng asal Aceh Utara punya cara unik berjualan mie Aceh dari atas pohon manggis yang menarik perhatian dan bikin penasaran banyak orang.
Konsep tersebut langsung menarik perhatian warganet. Lewat akun Instagram dan TikTok miliknya, Bang Baneng rutin membagikan aktivitas saat memasak, melayani pelanggan, hingga melakukan siaran langsung dari atas pohon. Simak ulasan lengkapnya dari POS VIRAL.
Kenapa Bang Baneng Memilih Berjualan di Atas Pohon?
Ide unik itu muncul karena Bang Baneng belum memiliki cukup modal untuk menyewa tempat usaha. Saat memanen buah manggis, ia kemudian mendapat ide untuk memanfaatkan pohon tersebut sebagai lokasi berjualan mie Aceh.
Bang Baneng menilai pohon manggis cukup kuat karena memiliki banyak dahan dan ranting. Ia pun mulai membangun konsep jualan dari sana. Usahanya mulai berjalan pada 9 Agustus 2026 di Desa Teungku, Banda Pirak, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara.
Awalnya, orang-orang di sekitar lokasi sempat menertawakan idenya. Namun, Bang Baneng tetap menjalankan usaha tersebut. Perlahan, pelanggan mulai berdatangan dan memberikan respons positif.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Peralatan Masak Naik ke Pohon Pakai Tali
Bang Baneng tidak sekadar duduk di atas pohon lalu menunggu pesanan. Ia benar-benar memasak mie dari ketinggian. Karena itu, ia harus membawa kompor portable, wajan, mie, bumbu, dan berbagai bahan masakan ke atas pohon.
Untuk mengangkat semua perlengkapan tersebut, Bang Baneng memanfaatkan tali dan ember. Ia menaikkan peralatan satu per satu sampai seluruh kebutuhan memasak berada di atas.
Aktivitas tersebut tentu membutuhkan kehati-hatian. Bang Baneng selalu memakai alat pelindung diri saat berjualan dari atas pohon. Ia juga berhenti berjualan ketika hujan atau angin kencang karena kondisi cuaca dapat membahayakan aktivitasnya.
Baca Juga: Miris! Siswa SDN Oelfab TTU Harus Seberangi Sungai Untuk Pergi ke Sekolah
Begini Cara Pelanggan Memesan Mie Aceh
Meski Bang Baneng memasak dari atas pohon, pelanggan tidak perlu ikut memanjat. Mereka cukup datang ke lokasi, memilih menu, kemudian menunggu di bawah pohon.
Setelah mie selesai dimasak, Bang Baneng memasukkan pesanan ke dalam ember. Ia kemudian menurunkan ember tersebut menggunakan tali sampai makanan mencapai pelanggan di bawah.
Konsep sederhana ini justru menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian. Beberapa pelanggan bahkan datang bersama rombongan dan menikmati mie Aceh di meja yang tersedia di bawah pohon manggis.
Pembayaran Tunai atau Scan QRIS, Pilih Mana?
Bang Baneng juga memikirkan cara pembayaran agar pelanggan tetap mudah bertransaksi. Pelanggan bisa membayar secara tunai setelah menerima pesanan. Mereka cukup memasukkan uang ke dalam ember, lalu Bang Baneng mengambilnya dari atas.
Jika pelanggan membutuhkan kembalian, Bang Baneng mengirim uang tersebut kembali menggunakan ember yang sama. Cara ini membuat proses pembayaran tetap berjalan meski penjual dan pembeli berada di tempat berbeda.
Selain uang tunai, Bang Baneng menyediakan QRIS. Pelanggan cukup memindai kode QR menggunakan ponsel, lalu menyelesaikan pembayaran tanpa perlu membawa uang fisik.
Menu Mie Aceh Mulai Rp10 Ribu
Konsep jualan yang tidak biasa membuat usaha Bang Baneng semakin ramai. Ia menawarkan empat pilihan menu, yaitu Mie Aceh Polos, Mie Aceh Telur, Mie Aceh Bakso, serta Indomie dengan tambahan rempah Aceh.
Harganya cukup ramah di kantong, mulai dari Rp10.000 hingga Rp15.000. Bang Baneng juga aktif membuat konten dan melakukan live streaming melalui akun media sosialnya sehingga semakin banyak orang mengetahui usaha unik tersebut.
Bang Baneng membuka jualannya setiap hari mulai pukul 14.00 sampai 17.30 WIB, kecuali Jumat. Ia juga memilih tutup ketika hujan atau angin kencang. Ke depannya, Bang Baneng ingin mempertahankan konsep unik tersebut dan mengembangkan tempat usaha di bawah pohon ketika modalnya sudah mencukupi.
Kisah Bang Baneng menunjukkan bahwa keterbatasan modal tidak selalu menghentikan seseorang untuk memulai usaha. Dengan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitarnya, ia justru menemukan konsep yang membuat mie Acehnya viral dan mengundang rasa penasaran banyak orang.