Selasa, September 22POS VIRAL
Shadow

Tragis! Ojol Tewas Terlindas Saat Demo, Apakah Akan Ada 98 Jilid 2?

​​Seorang pengemudi ojol, Affan Kurniawan (20), tewas terlindas mobil rantis Brimob saat pengamanan demo pada 28 Agustus 2025 di Jakarta​.

Tragis! Ojol Tewas Terlindas Saat Demo, Apakah Akan Ada 98 Jilid 2?

​Peristiwa tragis ojol tewas terlindas saat demo ini terekam kamera amatir dan memicu kemarahan serta keprihatinan publik yang meluas. Insiden tersebut juga memicu perdebatan mengenai potensi terulangnya Reformasi 1998, mengingat adanya isu-isu ketidakadilan dan tuntutan reformasi yang belum tuntas. Kepolisian telah mengamankan tujuh anggota Brimob untuk pemeriksaan terkait kejadian ini. Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran POS VIRAL.

NONTON GRATIS LIVE STREAMING STADIONLIVENONTON GRATIS LIVE STREAMING SHOTSGOAL

Insiden Fatal di Tengah Kericuhan Demonstrasi

​Kamis malam, 28 Agustus 2025, menjadi saksi bisu tragedi kemanusiaan di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. ​Demonstrasi ribuan buruh dan serikat pekerja di depan gedung DPR, yang awalnya berlangsung damai sejak pagi, berubah ricuh setelah massa tidak membubarkan diri menjelang magrib. ​Kepolisian mulai mendesak massa, menyebabkan mereka terdesak ke Jalan Gerbang Pemuda dan Penjernihan I, di mana bentrokan pecah dan gas air mata ditembakkan.

​Di tengah kekacauan tersebut, sekitar pukul 19.25 WIB, sebuah mobil rantis Brimob melaju kencang di Jalan Penjernihan I, tepat di depan Rumah Susun Bendungan Hilir. ​Tanpa memperhatikan massa yang berkerumun, kendaraan tersebut melindas seorang pengemudi ojol bernama Affan Kurniawan, yang saat itu tidak sempat menghindar. ​

Affan, warga Jatipulo, Jakarta Barat, sempat dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), namun nyawanya tidak tertolong. ​Saksi mata, Abdul (29), menuturkan bahwa mobil rantis tersebut melaju ugal-ugalan dan menabrak siapa saja yang ada di depannya. ​Diduga, Affan saat itu sedang mengantar pesanan pelanggan di kawasan Bendungan Hilir dan terjebak dalam kericuhan.

POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL

🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal.

Download Aplikasi Shotsgoal - Live Streaming Piala Dunia 2026
📲 DOWNLOAD SEKARANG

Gelombang Protes dan Tanggapan Resmi

Kematian Affan Kurniawan segera menyulut kemarahan publik, khususnya di kalangan komunitas ojek online. ​Ratusan driver ojol langsung mendatangi Markas Komando Brimob Polda Metro Jaya di Kwitang, Jakarta Pusat, pada Kamis malam itu juga, menuntut pertanggungjawaban atas insiden tersebut. ​Ketua Presidium Koalisi Ojol Nasional, Andi Kristiyanto, mengkonfirmasi kabar duka ini.

Menyatakan Affan adalah driver Gojek yang terlindas mobil barakuda. Video kejadian yang viral di media sosial menambah tekanan publik untuk pengusutan tuntas. ​Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mendatangi RSCM pada Jumat dini hari, 29 Agustus 2025, untuk melihat jenazah dan menemui keluarga korban.

​Ia menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban dan seluruh keluarga besar ojek online atas musibah yang terjadi, serta berjanji akan menindaklanjuti peristiwa ini sebagai bahan evaluasi bagi kepolisian. ​Kadiv Propam Polri Irjen Pol Abdul Karim juga menyatakan bahwa tujuh anggota Brimob telah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan di Divpropam Mabes Polri dan Propam Mako Brimob.

Baca Juga: 

Bayang-Bayang Reformasi 1998 Jilid 2

Bayang-Bayang Reformasi 1998 Jilid II

​Insiden tragis ini kembali memunculkan perbincangan mengenai potensi terulangnya “Reformasi 98 Jilid 2.” Reformasi 1998 merupakan tonggak sejarah besar yang lahir dari akumulasi ketidakadilan struktural, penindasan kebebasan berpendapat. Dan dominasi militeristik rezim otoriter Orde Baru, diperparah oleh korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). ​

Setelah 27 tahun berlalu, banyak agenda utama reformasi, seperti pemberantasan KKN dan supremasi hukum. Belum membuahkan hasil yang transformatif. ​Korupsi tetap subur, oligarki semakin menggurita. Dan demokrasi cenderung menjadi ritual prosedural tanpa partisipasi rakyat yang bermakna.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan krusial: ​apakah semangat dan agenda Reformasi 1998 masih relevan. Ataukah Indonesia membutuhkan “gelombang baru” perubahan yang lebih berani dan membumi​? Stagnasi selama hampir tiga dekade menunjukkan bahwa metode dan narasi lama mungkin sudah tidak memadai. Mendorong perlunya perumusan ulang agenda perubahan.

Faktor Pendorong dan Penghambat Gelombang Baru

​Beberapa pengamat menilai bahwa potensi Reformasi Jilid 2 bisa saja terjadi jika institusi penegak keadilan. Seperti Mahkamah Konstitusi (MK), tidak independen dalam membuat putusan yang mencerminkan rasa keadilan masyarakat. ​Pelanggaran etik di MK dan KPU, serta pengisian jabatan publik berdasarkan nepotisme yang meruntuhkan sistem sosial kemasyarakatan. Disebut sebagai runtutan yang dapat memicu kemarahan rakyat.

​Jika akumulasi masalah ini tidak menemukan jalan keluar, dikhawatirkan apa yang terjadi pada Reformasi ’98 akan terulang, bahkan dengan penyebab yang lebih akut. Namun, gerakan mahasiswa saat ini menghadapi tantangan berbeda dibandingkan 1998. ​Salah satunya adalah tidak adanya “musuh tunggal” yang jelas, yang membuat tuntutan multidimensi dan rentan terhadap fragmentasi.

​Selain itu, peran internet, meskipun memfasilitasi mobilisasi, juga dapat menjadi jebakan karena mudah dimanfaatkan untuk membelokkan narasi. Seperti yang terjadi pada gerakan #ReformasiDikorupsi. ​Tantangan ini membuat gerakan “Mosi Tidak Percaya” mungkin sulit mengulangi kesuksesan 1998.

Kebutuhan Akan Transformasi Substantif

​Apabila “gelombang baru perubahan” ini terjadi, para ahli menekankan bahwa ia harus melampaui Reformasi 1998 secara reflektif dan kritis. ​Yang dibutuhkan adalah reformasi tahap lanjut dengan pendekatan yang lebih sistemik, strategi yang lebih cerdas, dan agenda yang lebih konkret. ​Langkah awal harus berupa transformasi politik dan demokrasi secara substansial. Bukan hanya perbaikan mekanisme pemilihan formal.

​Demokrasi harus menjadi kekuatan nyata yang mampu menentukan arah kebijakan negara. Dengan partisipasi aktif masyarakat, transparansi total, dan penegakan supremasi hukum tanpa pengecualian. Selain itu, penting untuk melawan nepotisme dan politik dinasti yang merusak kualitas kepemimpinan. Serta desentralisasi kekuasaan yang akuntabel dan bermakna. ​

Di bidang ekonomi, ekonomi politik harus berpihak pada keadilan sosial, bukan oligarki. Dengan struktur ekonomi yang dirombak agar kekayaan nasional kembali ke rakyat. ​Pemberdayaan masyarakat sipil berbasis teknologi digital, revolusi pendidikan, reformasi agraria. Dan tata kelola daerah yang merangkul keberlanjutan lingkungan juga menjadi agenda penting.

Kesimpulan

Insiden Ojol tewas terlindas saat demo adalah pengingat menyakitkan akan rentannya nyawa di tengah dinamika sosial-politik yang memanas. Meskipun tidak ada korelasi langsung yang dapat dipastikan antara peristiwa ini dan terjadinya Reformasi “98 Jilid 2” berdasarkan dokumen yang tersedia. Insiden ini menambah daftar panjang kekhawatiran publik terhadap kondisi demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia.

Perdebatan mengenai “Reformasi Jilid 2” mencerminkan kegelisahan masyarakat atas agenda reformasi yang belum tuntas, tantangan nepotisme. Dan perlunya transformasi substantif dalam politik, ekonomi, dan sosial. Gelombang perubahan yang sesungguhnya membutuhkan visi yang lebih tajam, strategi yang adaptif. Dan partisipasi luas dari rakyat, melampaui euforia masa lalu menuju perwujudan keadilan dan kesejahteraan yang merata.

Simak dan ikuti terus jangan sampai ketinggalan informasi terlengkap tentang ojol ewas terlindas saat demo hanya di POS VIRAL.


Sumber Informasi Gambar:

  1. Gambar Pertama dari medan.tribunnews.com
  2. Gambar Kedua dari www.rmoljabar.id
Tele Grup
Channel WA
Grup FB
Search