Polemik The Sounds Project 2026 mencuat setelah video booth sponsor minuman beralkohol viral, memperlihatkan tantangan menghafal Surah Ad-Duha dengan hadiah.
Momen itu langsung mengundang reaksi keras dari warganet. Banyak yang mempertanyakan alasan unsur agama masuk dalam sebuah aktivitas di booth sponsor. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, 9 Agustus 2026, saat The Sounds Project berlangsung di kawasan Ancol, Jakarta Utara. Simak ulasan lengkapnya dari POS VIRAL.
Video Aktivitas di Booth Sponsor Mendadak Viral
Perhatian publik bermula dari video yang memperlihatkan seorang pengunjung mengikuti tantangan menghafal Surah Ad-Duha di area booth. Dalam video yang beredar, aktivitas tersebut kemudian dikaitkan dengan hadiah berupa minuman beralkohol.
Konten itu menyebar cukup cepat di media sosial dan memicu perdebatan. Sejumlah warganet menilai penggunaan ayat Al-Qur’an dalam aktivitas yang berkaitan dengan promosi minuman beralkohol tidak pantas. Kritik pun mengarah kepada pihak-pihak yang berada di balik kegiatan tersebut.
Situasi semakin ramai karena acara tersebut menghadirkan banyak pengunjung. Peristiwa yang terjadi di satu area booth akhirnya ikut menyeret nama The Sounds Project sebagai penyelenggara acara.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Newport Tegaskan Challenge Bukan Program Resmi
Manajemen Newport kemudian memberikan penjelasan terkait video tersebut. Brand itu menegaskan bahwa aktivitas pembacaan ayat suci Al-Qur’an bukan bagian dari program, konsep promosi, maupun arahan resmi perusahaan.
Menurut manajemen, aktivitas tersebut muncul secara spontan dari pengunjung yang berada di lokasi. Seorang pengunjung disebut tiba-tiba mengambil mikrofon dari pembawa acara atau MC dan memulai aktivitas tersebut sebelum tim di lokasi sempat menghentikannya.
Meski membantah keterlibatan dalam perencanaan aktivitas tersebut, Newport tetap mengakui adanya kekurangan dalam pengawasan. Manajemen juga menyampaikan permintaan maaf kepada umat Muslim, tokoh agama, serta masyarakat Indonesia yang merasa terganggu atau tersinggung oleh kejadian itu.
Baca Juga: Sahroni Soroti BNN Bongkar 1,3 Ton Ketamin, Sebut Kasus Ini Mengerikan
The Sounds Project Ikut Mengecam Keras
Pihak The Sounds Project juga langsung memberikan respons terhadap polemik tersebut. Penyelenggara menyatakan tidak pernah memberikan arahan maupun persetujuan terhadap aktivitas yang menjadikan agama sebagai bagian dari tantangan atau promosi produk.
TSP bahkan menyatakan kemarahan dan kekecewaannya atas kejadian tersebut. Penyelenggara menegaskan bahwa mereka tidak membenarkan tindakan yang membawa unsur agama ke dalam aktivitas promosi produk.
Sebagai langkah lanjutan, TSP memberikan teguran kepada pihak brand. Penyelenggara juga meminta pihak terkait bertanggung jawab serta melakukan identifikasi terhadap orang-orang yang terlibat langsung dalam aktivitas tersebut.
Kasus Mulai Masuk Perhatian Kepolisian
Polemik ini kini tidak hanya menjadi perbincangan di media sosial. Aparat kepolisian turut menangani informasi mengenai kejadian tersebut. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyampaikan bahwa proses penyelidikan dilakukan oleh Polsek Pademangan bersama Polres Metro Jakarta Utara.
Pada Selasa, 11 Agustus 2026, penyidik menjadwalkan klarifikasi terhadap pihak event organizer (EO) dan MC acara. Langkah tersebut menjadi bagian dari proses untuk mengetahui rangkaian kejadian secara lebih jelas.
Kepolisian juga membuka ruang bagi masyarakat yang memiliki informasi atau merasa dirugikan untuk menyampaikan laporan melalui jalur resmi. Setelah proses pengumpulan informasi berjalan, aparat akan melakukan gelar perkara untuk menentukan langkah selanjutnya.
Publik Kini Menunggu Hasil Penyelidikan
Polemik di The Sounds Project 2026 menjadi perhatian karena menyangkut penggunaan unsur agama dalam sebuah kegiatan di ruang publik. Pihak brand sudah menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf, sementara penyelenggara mengambil sikap tegas terhadap aktivitas tersebut.
Di sisi lain, proses klarifikasi oleh kepolisian masih berjalan. Publik kini menunggu hasil penyelidikan untuk mengetahui siapa saja yang terlibat dan bagaimana aktivitas tersebut bisa berlangsung di area booth tanpa segera dihentikan.
Terlepas dari proses hukum yang mungkin berjalan, insiden ini menjadi pengingat bagi penyelenggara acara dan brand untuk memperketat pengawasan setiap aktivitas di lokasi. Apalagi ketika sebuah kegiatan melibatkan isu agama dan berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.