Peta Wildfires Google Maps menampilkan sebaran tanda karhutla di Kalimantan, dengan penanda merah kategori severe fire yang terlihat cukup padat di Kalimantan Selatan.
Peta digital tersebut ramai dibicarakan warganet karena muncul saat sebagian wilayah Indonesia memasuki musim kemarau. Kondisi kering meningkatkan kekhawatiran terhadap meluasnya karhutla, kabut asap, serta dampaknya terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat. Simak ulasan lengkapnya dari POS VIRAL.
Peta Digital Bukan Berarti Semua Wilayah Terbakar
Meski tampilannya cukup mencolok, masyarakat perlu memahami cara membaca informasi pada peta kebakaran. Penanda yang muncul berasal dari sistem pemantauan dan tidak otomatis menunjukkan jumlah pasti titik api maupun luas lahan yang terbakar.
Artinya, banyaknya tanda merah pada peta tidak bisa langsung digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh kawasan tersebut terbakar. Data lapangan dari pemerintah dan lembaga terkait tetap menjadi acuan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Namun, kemunculan penanda tersebut tetap menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Apalagi, sejumlah wilayah Kalimantan memang masuk dalam kawasan yang memiliki risiko karhutla tinggi selama musim kemarau.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Risiko Karhutla Kalimantan Masih Tinggi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebelumnya telah mengingatkan adanya peningkatan risiko karhutla pada periode Agustus hingga September 2026. Dalam rapat koordinasi pada 10 Agustus, BNPB menempatkan sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan sebagai prioritas penanganan.
Enam provinsi masuk daftar prioritas, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Hingga 9 Agustus 2026, total lahan terbakar di enam provinsi tersebut mencapai sekitar 48.889,69 hektare.
Kalimantan Barat mencatat luasan terbesar dengan sekitar 28.680,47 hektare. Kalimantan Tengah menyusul dengan 3.069,52 hektare, sedangkan Kalimantan Selatan mencatat sekitar 383,07 hektare.
Data tersebut menunjukkan bahwa karhutla di Kalimantan bukan hanya persoalan yang terlihat melalui peta digital. Pemerintah juga menghadapi tantangan nyata di lapangan untuk menghentikan api dan mencegah kebakaran meluas.
Baca Juga: Viral! Aksi Tak Senonoh Dua Wanita dan Bule Terekam CCTV Warga Canggu
BNPB Andalkan Pemadaman Darat dan Udara
BNPB memperkuat operasi darat dan udara untuk menghadapi karhutla. Tim di lapangan tidak hanya memadamkan api, tetapi juga melakukan pendinginan serta penyisiran, terutama pada kawasan gambut yang dapat menyimpan bara di bawah permukaan.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga menjadi salah satu strategi pendukung. Namun, tim tidak bisa menjalankan OMC setiap saat karena proses penyemaian membutuhkan awan dengan kondisi tertentu.
Karena itu, operasi darat tetap memegang peran penting. Pada pertengahan Agustus, BNPB menyiagakan 35 unit armada untuk membantu penanganan karhutla. Armada tersebut terdiri dari 12 helikopter atau pesawat patroli, 21 helikopter water bombing, serta dua pesawat untuk mendukung OMC.
BNPB juga mengupayakan tambahan delapan helikopter water bombing. Khusus Kalimantan Tengah, pemerintah memperkuat operasi OMC dan mengarahkan penyemaian NaCl ke kawasan dengan tingkat kebakaran tinggi, termasuk Pulang Pisau dan Palangka Raya.
Cuaca Kering dan El Nino Jadi Perhatian
Faktor cuaca ikut meningkatkan risiko kebakaran. BMKG menyatakan sebagian besar wilayah Indonesia masih mengalami kondisi relatif kering pada periode 18-24 Agustus 2026.
Pada Dasarian I Agustus, sebanyak 535 Zona Musim atau sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. BMKG juga mencatat curah hujan kategori rendah mendominasi sekitar 90,79 persen wilayah Indonesia.
Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih muncul di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan dan Papua. Kondisi tersebut sejalan dengan cuaca kering yang membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar.
BMKG turut memperhatikan pengaruh El Nino dengan intensitas sangat kuat serta IOD positif. Kedua fenomena tersebut cenderung mengurangi suplai uap air ke Indonesia sehingga kondisi atmosfer tetap kering.
Masyarakat Diminta Tidak Sembarangan Membakar
Dengan risiko karhutla yang masih tinggi, masyarakat perlu ikut mencegah munculnya titik api baru. BMKG mengimbau warga tidak membakar sampah atau membuka lahan menggunakan api, terutama di kawasan gambut, semak belukar, dan hutan.
Warga juga perlu segera melaporkan indikasi kebakaran kepada pihak berwenang. Laporan lebih cepat dapat membantu petugas mengambil tindakan sebelum api menyebar semakin luas.
Penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul. Pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat perlu memperkuat pencegahan, terutama saat cuaca kering masih berlangsung.
Kondisi lahan gambut juga membutuhkan perhatian khusus karena api dapat merambat di bawah permukaan dan menyulitkan proses pemadaman. Karena itu, kewaspadaan selama puncak musim kemarau menjadi kunci untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.