Hair Croissant asal Thailand viral pada Juli 2026 karena tampilannya menyerupai rambut kemaluan dan memicu perdebatan soal kreativitas serta etika.
Meski terlihat sangat realistis, serat hitam di atas croissant bukanlah rambut asli. Pembuatnya mengolah gula hingga menyerupai pişmaniye khas Turki, dragon’s beard candy dari China, atau memanfaatkan rumput laut dan ganggang hitam sehingga tampilannya tampak sangat nyata. Namun, kemiripan visual itu memunculkan pertanyaan besar. Apakah kreativitas memang harus mengandalkan unsur vulgar agar sebuah produk cepat viral?
Hair Croissant Viral Karena Visual yang Mengundang Kontroversi
Fenomena ini menunjukkan bahwa tampilan makanan kini memegang peran penting dalam menarik perhatian publik. Banyak pelaku usaha sengaja menciptakan produk yang tidak biasa agar mudah menyebar di media sosial. Hair Croissant menjadi salah satu contoh paling ekstrem karena mengandalkan efek kejut melalui tampilannya.
Sebagian orang menganggap konsep tersebut sebagai inovasi yang berani. Mereka menilai Hair Croissant hanya sebagai karya seni kuliner yang unik tanpa maksud buruk. Sebaliknya, banyak orang merasa jijik dan tidak nyaman karena bentuknya menyerupai organ intim perempuan. Perbedaan pandangan itu akhirnya memicu perdebatan panjang mengenai batas antara kreativitas dan etika.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Etika Visual Menjadi Syarat Penting dalam Sertifikasi Halal
Di Indonesia, polemik Hair Croissant tidak hanya berkaitan dengan selera atau kreativitas. Produk pangan juga harus memenuhi standar etika sebagai bagian dari proses sertifikasi halal. Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof. KH Asrorun Ni’am Sholeh, menegaskan bahwa produk dengan bentuk atau visual yang menyerupai organ intim tidak memenuhi syarat untuk memperoleh sertifikasi halal.
Fatwa MUI Nomor 44 Tahun 2020 menjadi dasar ketentuan tersebut. Aturan itu menjelaskan penggunaan nama, bentuk, dan kemasan produk yang tidak memenuhi syarat sertifikasi halal. Prinsip halalan thayyiban menegaskan bahwa produsen tidak cukup hanya memakai bahan yang halal. Mereka juga harus menghadirkan produk yang baik, pantas, menjaga kehormatan manusia, serta bebas dari unsur erotis, pornografi, maupun simbol yang bertentangan dengan norma agama dan kesopanan.
Baca Juga: Tragis! Dua Bocah Tewas Tenggelam di Empang Bekas Galian Karawang, Satu Temannya Selamat
Ketika Sensasi Mengalahkan Nilai dan Martabat
Fenomena Hair Croissant memperlihatkan bagaimana strategi pemasaran kini semakin mengandalkan sensasi. Semakin mengejutkan sebuah produk, semakin besar peluangnya menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Sayangnya, banyak pelaku usaha lebih mengejar perhatian publik daripada mempertimbangkan dampak sosial yang muncul.
Banyak pelaku pemasaran masih memakai objektivikasi tubuh perempuan untuk menarik perhatian publik. Dalam kasus Hair Croissant, pembuat produk sengaja memilih bentuk yang menyerupai bagian intim perempuan sebagai daya tarik utama. Kondisi ini memunculkan kritik karena pelaku pemasaran kembali menjadikan tubuh perempuan sebagai objek hiburan demi meningkatkan penjualan dan jumlah tayangan di media sosial.
Kreator Konten Harus Mengutamakan Tanggung Jawab Etis
Kreator konten ikut mempercepat penyebaran tren seperti Hair Croissant. Banyak ulasan lebih menonjolkan unsur mengejutkan daripada membahas nilai atau dampak sosial dari produk tersebut. Akibatnya, masyarakat lebih fokus pada sensasi daripada mempertanyakan apakah konten itu layak mendapat perhatian.
Kreativitas memang menjadi bagian penting dalam dunia digital. Namun, setiap kreator juga memikul tanggung jawab moral. Kreator yang menghargai nilai kemanusiaan mampu menghasilkan konten yang memberi dampak positif dalam jangka panjang. Sebaliknya, kreator yang terus mengandalkan eksploitasi visual berpotensi menurunkan standar etika karena mereka mendorong masyarakat menganggap praktik tersebut sebagai hal yang wajar.
Saatnya Menghargai Kreativitas yang Tetap Menjunjung Etika
Hair Croissant menjadi pengingat bahwa tidak semua hal yang viral layak dijadikan contoh. Pelaku usaha memang bisa meraih popularitas melalui konsep yang mengejutkan, tetapi mereka seharusnya tidak mengukur keberhasilan hanya dari jumlah tayangan atau komentar di media sosial.
Pelaku usaha bisa menunjukkan kreativitas melalui cita rasa, teknik pembuatan, penyajian, maupun cerita di balik sebuah makanan. Dengan cara itu, mereka tetap mampu menarik perhatian publik sekaligus menjaga nilai etika. Masyarakat juga perlu bersikap lebih kritis dalam memilih konten yang layak mendapat apresiasi. Jika publik mulai menghargai karya yang kreatif sekaligus beretika, industri kuliner dan dunia digital akan berkembang ke arah yang lebih sehat tanpa harus mengorbankan martabat manusia demi sensasi sesaat.