Pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pada Jumat, 15 Agustus 2025, berakhir tanpa kesepakatan final terkait perang di Ukraina.

Dialog yang berlangsung selama hampir tiga jam ini menunjukkan sinyal akan adanya kelanjutan pembicaraan di masa mendatang. Dibawah ini anda bisa melihat berbagai informasi menarik lainnya seputaran POS VIRAL.
Pertemuan Puncak Trump-Putin di Alaska
Pada tanggal 15 Agustus 2025, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan pertemuan tingkat tinggi (summit) di Joint Base Elmendorf–Richardson, Anchorage, Alaska. Ini merupakan pertemuan tatap muka pertama mereka setelah sebelumnya melakukan komunikasi jarak jauh dan juga panggilan telepon panjang termasuk panggilan Februari dan Maret 2025 yang menyepakati dimulainya negosiasi serta jeda 30 hari atas serangan infrastruktur energi.
Kehadiran Putin di wilayah AS sejak invasi Rusia ke Ukraina menandai pergeseran diplomatik yang signifikan dan menjadi simbol munculnya dinamika baru antara Washington dan Moskow. Dialog yang berlangsung selama hampir tiga jam ini menunjukkan sinyal akan adanya kelanjutan pembicaraan di masa mendatang.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Nikmati Keseruan Nonton Bola, Akses Tanpa Batas, dengan cara LIVE STREAMING GRATIS aplikasi Shotsgoal. Segera download!
Jalannya Pertemuan Trump-Putin
Pertemuan perdana antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska ini berlangsung selama kurang lebih tiga jam. Pertemuan ini diadakan di sebuah ruangan di pangkalan Angkatan Udara di Anchorage, Alaska, dengan latar belakang bertuliskan “Pursuing Peace” atau “Mengejar Perdamaian”.
Ini merupakan pertemuan tatap muka pertama antara kedua pemimpin sejak tahun 2019. Pertemuan ini juga merupakan yang pertama dalam tujuh tahun terakhir, setelah pertemuan Putin dan Trump di Helsinki pada tahun 2018 yang berlangsung selama dua jam.Pertemuan tersebut dilakukan dalam format tertutup dengan kehadiran delegasi dari kedua belah pihak.
Dari pihak Rusia, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov dan penasihat presiden Yury Ushakov turut hadir. Sementara itu, dari pihak AS, Menteri Luar Negeri Marco Rubio serta utusan AS untuk Timur Tengah Steeve Witkoff ikut serta dalam dialog tersebut.
Meskipun jurnalis diizinkan mengambil foto dan video sebelum pembicaraan dimulai. Mereka diminta keluar setelah beberapa pertanyaan tentang perang Ukraina dilontarkan kepada Putin. Laporan dari TASS menyebutkan bahwa presiden dan para delegasi terkejut dengan pertanyaan-pertanyaan jurnalis tersebut.
Baca Juga: Presiden Trump Ejek Putin, Rusia Ancam Akan Perang Dunia Ke III
Hasil Pernyataan Pasca-Pertemuan

Meski pertemuan ini tidak menghasilkan kesepakatan konkret mengenai gencatan senjata atau upaya mengakhiri perang di Ukraina. Kedua pemimpin menggambarkan dialog tersebut sebagai “konstruktif” dan berlangsung dalam “suasana saling menghormati”.
Presiden Trump menyatakan bahwa ia dan Putin belum mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina. Namun, Trump juga menambahkan bahwa “ada banyak sekali poin yang kami sepakati,” dan bahwa mereka telah membuat “beberapa kemajuan,” meskipun belum ada kesepakatan final yang tercapai.
Di sisi lain, Presiden Putin menyatakan adanya “kesepahaman” dengan Trump yang diharapkan dapat “membuka jalan bagi perdamaian di Ukraina”. Putin mengungkapkan keyakinannya bahwa dengan jalur yang mereka tempuh, konflik di Ukraina dapat berakhir lebih cepat dari yang diharapkan.
Ia juga menekankan bahwa Rusia sangat tertarik untuk mengakhiri perang di Ukraina. Tetapi meminta agar kepentingan sah Rusia diperhitungkan. Menurut Putin, peristiwa di Ukraina berkaitan dengan ancaman fundamental terhadap keamanan nasional Rusia, dan keseimbangan yang adil di bidang keamanan di Eropa dan dunia harus dipulihkan.
Putin juga berharap agar Ukraina dan sekutu-sekutunya di Eropa merespons secara konstruktif dan tidak menciptakan hambatan apapun terhadap kemajuan ini.
Prospek Pertemuan Lanjutan
Terlepas dari hasil yang belum final, atmosfer pertemuan antara Trump dan Putin terkesan hangat. Dengan senyum tersungging di antara kedua pemimpin. Keduanya saling sapa layaknya sahabat lama, berjabat tangan, dan saling menyentuh lengan, menunjukkan kehangatan yang nyata.
Trump dan Putin juga saling melontarkan pujian; Trump menyebut Putin sopan dan tangguh. Sementara Putin menyatakan bahwa tidak akan ada perang jika Trump menjadi presiden AS pada tahun 2022. Putin, yang menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang, tetap disambut di AS.
Rusia membantah tuduhan kejahatan perang ini.Menjelang akhir pernyataan bersama. Putin secara terbuka menawarkan Moskow sebagai tuan rumah pertemuan selanjutnya. Putin bahkan mengatakan dalam bahasa Inggris, “Lain kali di Moskow,” menanggapi ucapan terima kasih Trump dan harapannya untuk bertemu kembali.
Trump merespons tawaran ini dengan mengatakan, “Oh, itu menarik,” dan menambahkan bahwa ia mungkin akan sedikit mendapat tekanan terkait hal itu. Tetapi melihat kemungkinan pertemuan tersebut terjadi.
Keresahan Ukraina dan Persepsi Kemenangan Putin
Pertemuan Trump dan Putin tanpa kehadiran Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memunculkan kekhawatiran di Eropa. Ukraina dan sekutunya khawatir bahwa Trump akan membekukan konflik dan secara tidak langsung mengakui kendali Rusia atas sekitar seperlima wilayah Ukraina, yang telah direbut sejak invasi Rusia pada Februari 2022. Presiden Ukraina sendiri tidak diundang dalam pertemuan puncak tersebut.
Media Ukraina melontarkan kritik tajam terhadap KTT Alaska. Dengan salah satu surat kabar bahkan menyebut pertemuan tersebut “mengecewakan dan memalukan” serta “tidak berguna”. Kritikan ini menyoroti kegagalan Trump dalam menindaklanjuti ancamannya tentang “konsekuensi serius” bagi Rusia.
Seorang jurnalis Ukraina, Kristina Berdinskikh, menyoroti bahwa Trump “gagal” mencapai gencatan senjata dalam pertemuan tersebut. Politisi dan aktivis Ukraina juga mempertanyakan efektivitas pertemuan tersebut, dengan anggota parlemen Yaroslav Zheleznyak menyatakan bahwa apa yang dilakukan Amerika adalah “hal yang sia-sia”.
Aktivis sipil Mustafa Nayyem mengkritik Trump karena menjamu Putin. Dengan menyatakan bahwa “Amerika secara sukarela bergabung dengan barisan panjang mereka yang percaya bahwa mungkin untuk berjabat tangan dengan algojo tanpa terkena darahnya”.
Banyak pihak di Ukraina menilai bahwa pertemuan tersebut justru memberikan keuntungan besar bagi Putin. CNN melaporkan bahwa Putin meraih beberapa kemenangan besar, termasuk sambutan karpet merah di Amerika Serikat dan perjalanan menaiki limosin The Beast, yang dianggap luar biasa untuk pemimpin dari negara dengan hubungan yang kurang baik.
Media-media Ukraina menyimpulkan bahwa pertemuan tersebut tidak menghasilkan apapun yang jelas. Tanpa kesepakatan konkret mengenai gencatan senjata atau upaya mengakhiri perang di Ukraina.
Manfaatkan juga waktu anda untuk mengeksplorasi lebih banyak lagi tentang semua informasi lainnya hanya di POS VIRAL.
- Gambar Utama dari mediaindonesia.com
- Gambar Utama dari www.kompas.id
